Syahid
M Muthahhari
(Sekum HMI MPO Purwokerto)
Pada
ruang dan ranah yang sedang kita hadapi, pada realitas yang nampak mewujud
dalam kehidupan sehari-hari, pada cita-cita yang kita tempuh dan perjuangkan,
pada idealita yang kita harapkan dapat membumi, pada lampu padam yang selalu
kita inginkan menyala, pada impian yang tersusun rapi, selalu kita temui sunyi.
Entah kita sebut itu sebagai ketidakpastian, kita sebut itu sebagai kegagalan, kita sebut itu sebagai kecurangan, kita sebut itu sebagai kekalahan atau bahkan kita sebut itu sebagai ketiadaan. Sunyi selalu menemani. Dalam kesunyian, skeptis dan curiga kerap menghampiri hingga akhirnya kita memilih untuk berdiam diri dengan tanpa peduli pada yang senyatanya terjadi, setelah beberapa kali keringat membanjiri, tangisan mengucur deras, teriakan berkoar keras, langkah kaki berdetak tegas. Padahal kita sudah benar-benar mengerti bahwa sebuah idealita yang tersusun dari pedoman yang hakiki tak akan pernah mendua pada janji-janji.
Entah kita sebut itu sebagai ketidakpastian, kita sebut itu sebagai kegagalan, kita sebut itu sebagai kecurangan, kita sebut itu sebagai kekalahan atau bahkan kita sebut itu sebagai ketiadaan. Sunyi selalu menemani. Dalam kesunyian, skeptis dan curiga kerap menghampiri hingga akhirnya kita memilih untuk berdiam diri dengan tanpa peduli pada yang senyatanya terjadi, setelah beberapa kali keringat membanjiri, tangisan mengucur deras, teriakan berkoar keras, langkah kaki berdetak tegas. Padahal kita sudah benar-benar mengerti bahwa sebuah idealita yang tersusun dari pedoman yang hakiki tak akan pernah mendua pada janji-janji.
Segala
macam bentuk persoalan yang kita hadapi selalu saja membuat isi kepala ini tak
hentinya berfikir, membuat susunan dan tatanan kata yang rapi, membuat konsep
dan paradigma, membuat rekayasa-rekayasa dan taktis-taktis stategis. Dalam
keberfikiran dengan hasrat yang ingin segera terealisasikan, kita kemudian
mempropaganda massa, mendidik kader, menghimpun gerakan,
membentuk barisan dengan panji-panji dan jargon-jargon agar ide seolah mendapat
pembenaran. Sejarah telah sajikan segala bentukan ini dan kita masih
berkeyakinan dengan harapan masa-masa itu kembali, atau setidak-tidaknya lewat
sejarah, kita masih bisa berharap bahwa perjuangan menjauhkan kita pada
kesunyian. Dan kini kita telah benar-benar yakin bahwa tak ada kesunyian dalam
senyatanya keadaan. Dan bergerak adalah jawaban dalam realitas yang terus
bergerak, katanya, Namun celakanya, kita malah menyusun harapan pada kestatisan
dan ketidakpastian, sebab masa depan tetap masa depan yang menjadi misteri,
maka masa depan tidak lain adalah sunyi itu sendiri, masa depan merupakan ruang
hampa dan kosong! Kita hanya bisa menafsirkan dan membuat
kemungkinan-kemungkinan, kita hanya bisa berimajinasi atas masa depan yang
selalu kita klaim itu pasti.
Atau
kita malah seperti Rumi yang begitu mencintai kesunyian, di ujung tombak
peradaban, Rumi malah bernyanyi dan menari, menyusun puisi. Rumi seolah memaksa
kesunyian hadir, dalam pusaran tornado, dalam putaran tariannya, dalam mabuk
yang dibuatnya, dalam setiap bait puisinya. Cintanya begitu besar pada
kesunyian, hingga kita tak pernah benar-benar yakin dengan apa yang diyakini
Rumi, ketika jendela di ruangan kamar hadirkan gambaran tentang keyataan. Rumi
memilih keterasingan dalam kehidupan yang ia anggap sebagai kesunyian. Ia
seolah manampik segala keterpurukan, bahwa kebahagian hanya hadir dalam
kesunyian.
Dan
kita tak pernah benar-benar bisa yakin dengan apa yang kita pikirkan. Kita
kehilangan kepercayaan, terhadap diri, terhadap apapun yang kita mengerti.
Atau
akankah kita bisa sedikit berdioalog dengan sunyi, meluangkan waktu sejenak
menghadirkan kesunyian? Menitipkan harapan pada kesunyian?


0 komentar:
Plaas 'n opmerking