Donderdag 19 September 2013

SUNYI

04:50


oleh 
Syahid M Muthahhari
(Sekum HMI MPO Purwokerto)

Pada ruang dan ranah yang sedang kita hadapi, pada realitas yang nampak mewujud dalam kehidupan sehari-hari, pada cita-cita yang kita tempuh dan perjuangkan, pada idealita yang kita harapkan dapat membumi, pada lampu padam yang selalu kita inginkan menyala, pada impian yang tersusun rapi, selalu kita temui sunyi.
Entah kita sebut itu sebagai ketidakpastian, kita sebut itu sebagai kegagalan, kita sebut itu sebagai kecurangan, kita sebut itu sebagai kekalahan atau bahkan kita sebut itu sebagai ketiadaan. Sunyi selalu menemani. Dalam kesunyian, skeptis dan curiga kerap menghampiri hingga akhirnya kita memilih untuk berdiam diri dengan tanpa peduli pada yang senyatanya terjadi, setelah beberapa kali keringat membanjiri, tangisan mengucur deras, teriakan berkoar keras, langkah kaki berdetak tegas. Padahal kita sudah benar-benar mengerti bahwa sebuah idealita yang tersusun dari pedoman yang hakiki tak akan pernah mendua pada janji-janji.

Segala macam bentuk persoalan yang kita hadapi selalu saja membuat isi kepala ini tak hentinya berfikir, membuat susunan dan tatanan kata yang rapi, membuat konsep dan paradigma, membuat rekayasa-rekayasa dan taktis-taktis stategis. Dalam keberfikiran dengan hasrat yang ingin segera terealisasikan, kita kemudian mempropaganda massa, mendidik kader, menghimpun gerakan, membentuk barisan dengan panji-panji dan jargon-jargon agar ide seolah mendapat pembenaran. Sejarah telah sajikan segala bentukan ini dan kita masih berkeyakinan dengan harapan masa-masa itu kembali, atau setidak-tidaknya lewat sejarah, kita masih bisa berharap bahwa perjuangan menjauhkan kita pada kesunyian. Dan kini kita telah benar-benar yakin bahwa tak ada kesunyian dalam senyatanya keadaan. Dan bergerak adalah jawaban dalam realitas yang terus bergerak, katanya, Namun celakanya, kita malah menyusun harapan pada kestatisan dan ketidakpastian, sebab masa depan tetap masa depan yang menjadi misteri, maka masa depan tidak lain adalah sunyi itu sendiri, masa depan merupakan ruang hampa dan kosong! Kita hanya bisa menafsirkan dan membuat kemungkinan-kemungkinan, kita hanya bisa berimajinasi atas masa depan yang selalu kita klaim itu pasti.

Atau kita malah seperti Rumi yang begitu mencintai kesunyian, di ujung tombak peradaban, Rumi malah bernyanyi dan menari, menyusun puisi. Rumi seolah memaksa kesunyian hadir, dalam pusaran tornado, dalam putaran tariannya, dalam mabuk yang dibuatnya, dalam setiap bait puisinya. Cintanya begitu besar pada kesunyian, hingga kita tak pernah benar-benar yakin dengan apa yang diyakini Rumi, ketika jendela di ruangan kamar hadirkan gambaran tentang keyataan. Rumi memilih keterasingan dalam kehidupan yang ia anggap sebagai kesunyian. Ia seolah manampik segala keterpurukan, bahwa kebahagian hanya hadir dalam kesunyian.

Dan kita tak pernah benar-benar bisa yakin dengan apa yang kita pikirkan. Kita kehilangan kepercayaan, terhadap diri, terhadap apapun yang kita mengerti.

Atau akankah kita bisa sedikit berdioalog dengan sunyi, meluangkan waktu sejenak menghadirkan kesunyian? Menitipkan harapan pada kesunyian?

Written by

Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Purwokerto.

0 komentar:

Plaas 'n opmerking

 

© 2013 HMI (MPO) Cabang Purwokerto. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top