Donderdag 19 September 2013

Jalan Buntu

05:28



Syahid M Muthahhari
Sekum HMI MPO Cabang Purwokerto


Ketika hendak menoreh kata dalam tulisan ini, rasanya pikiran begitu terepresi. Sebuah kegiatan yang dirangkum dalam kerangka ideologis selalu enggan memberikan ruang pada dialektika yang lebih terbuka. Syarat dan ketentuan dimaknai sebagai kewajiban dan penyelenggara adalah otoritas penentu. Ingatan tentang cita-cita pada akhirnya membentuk kesadaran bahwa agama menjadi naungan dan tumpuan, kemudian melahirkan kepatuhan. Apa yang hendak dibicarakan bukan hanya persoalan perkaderan, namun mitos yang terus menerus tersusun rapi lewat selubung-selubung ideologis yang terlembagakan. Kategorisasi objektif dan subjektif tak bisa di klaim secara positivistik sebab keduanya merupakan dimensi kesadaran yang membentuk pola pikiran dan tindakan. Buktinya saja tulisan ini bukan dalam konotasi melawan namun mencoba mempertanyakan kembali, agar setidak-tidaknya ruang dikhotomis tidak terjadi, agar kontempalsi individual bisa dimengerti sebagai penemuan baru yang segar, sebab lagi-lagi ideologi rentan kodifikasi dan mistifikasi, begitupula halnya islam dalam rentang sejarah yang panjang, cita-cita ideologis selalu terjebak pada konflik tak berkesudahan dan stigma. Dalam aras aktualisasi, kita terebak dalam kontektualisasi buta, lagi-lagi historisasi selalu menemui kebuntuan dan patahan dalam realitas yang absurd. Dan kita terus mengulang mitos ini. Lalu akankah kita bertahan pada ideologi ini?

Disisi lain sejarah menjadi bentuk kajian serius untuk memecah kebuntuan ini. Sejarah dianggap dapat mengembalikan ingatan pada asal mula terjadinya semesta mengembalikan mitos pada fakta, mengembalika cita-cita pada hakikat, mengambalikan manusia pada fitrah?. Namun sejarah selalu malu-malu menjukan siapa dirinya, hingga kemaluan ditempatkan diatas kepalanya, identitasnya selalu tersembunyi bahkan persembunyiannya rasa-rasanya tak mungkin ditemui. Kebenaran yang disampaikan sejarah bisa seperti seorang propagandis, tegas dan politis, namun sejarah juga bisa ungkapkan dengan kontempalif dan romantis. Ia bisa sampaikan kebenaran dan kebohongan pada ruang waktu yang berbeda bahkan sama sekaligus. Artefak-artefak sejarah dimaknai sebagai peninggalan sejarah, bentukan masa lalu dan romantisme yang menghakimi bahwa masa lalu adalah tradisional dan kini adalah modern? Sejarah memenggal kepalanya sendiri, sejarah tak bisa menjadi pembanaran atas kebuntuan ini. Lagi-lagi pengetahuan sejarah masih perspektivis dan sangat individual, Marx hanya bicara ekonomi. Sejarah hanya menyisakan artefak mayat-mayat berserakan di pinggir jalan.

Dilain pihak, skeptipisme dijawab melalui kebudayaan, masih dalam kerangka sejarah, bahwa penemuan orisinil manusia terbentuk melalui kebudayaan yang menghasilkan stuktur sosial, ekonomi dan politik para pemikir post bermunculan dan humanisme diaganungkan kembali, Lacan hingga Zizek bicara persolan ini. Kesadaran di klaim terbentuk dari hal ini, namun masih perlu dipertanyakan kembali, sebab manusia tidak beralan sendiri bahkan, sekalipun Barthes bicara mitos ia akhirnya mengkritik dirinya sendiri. Para pemikir post ini lebih parah, kebuntuan diawab dengan skeptipisme berlebihan dan pada akhirnya kebenaran tak sempat di temukan dalam kekosongan keyakinan. Atau ditempatkan pada dua pilihan menjadi positivistik-subjektif atau individualistik. Para pemikir post saya kira hanya menyisakan menara yang makin tinggi. Dan perdebatan antara kesadaran tak lain hanya terjebak pada empirisme yang selalu terulang. Entah kapitalisme atau komunisme tak bisa melepaskan dari sturktur ekonomi. Sekalipun banyak pemikir post, pendekatan ekonomi politik masih jadi tumpuan, kalau sekalipun melakukan lompatan pemikiran hanya khotbah jum’at semata. Kapitalisme memang menang, dengan berlebihan Francis Fukuyama berorasi dalam bukunya “the end history on the last man” namun proses ini masih belum selesai selagi penguasa modal semakin sedikit dikuasai orang dan kala itu revolusi terjadi, hanya peralihan kuasa lewat mekanisme yang berbeda namun sebetulnya sama saja.

Marxisme hanya menyisakan: ternak sapi
Kapitalisme hanya menyisakan: sapi perah.

Akankah kita percaya atau merenungi ungkapan Emha bahwa “konflik adalah keniscayaan, agar alam tetap menjadi alam, agar manusia tetap menjadi manusia. Dialektiktika abadi”

Dalam kancah pemikiran islam, peran dan posisi manusia selalu dipertanyakan, islam mengklaim manusia sebagai khalifah, sebuah ungkapan yang penuh optimistik dan kepercayaan berlebihan terhadap diri sendiri. peran ini dimaknai begitu bernilai, hingga syurga sebagai kepercayaan mistik dijadikan sebagai akhir tujuan penciptaan dan kembalinya manusia pada tuhan adalah sejatinya kemanusiaan. Konsekunesi logis dari hal ini karap kali menjadikan manusia sangat antroposentris, apa yang dialami para pemikir dibelahan bumi barat nampaknya terjadi juga di timur, perbedaaannya hanya pada tujuan yang empirik dan yang mistik. Alienasi manusia dengan realitas objektifnya kian terpisah, kita bisa saksikan konflik sektarian yang belum selesai hingga kini dan keterbelakangan dalam peradaban islam, kejayaan yang pernah dimiliki hancur karena perdebatan sektarian mengenai persoalan mazhab.

Doktrin manusia sebagai khalifah tidak lain memproduksi banyaknya manusia-manusia ortodoks dan pemarah, seolah tuhan berada di balik nya yang siap menebaskan pisau di kepala setiap manusia yang berbeda. Padahal kritik yang dilancarkan para pemikir islam begiru gencar dengan klaim-klaim ateisme. Islam sedang menghadapi masalah serius berupa masalah ekonomi-politik yang rill dan moralitas, sebab faktanya kesejahteraan nampaknya belum lahir dibelahan bumi Islam disisi lain kita masih sibuk dengan pekerjaan rumah, ya bicara soal moral! Kita akhrinya begitu tertinggal jauh dan fase perdebatan pemikiran dan konflik berdarah sudah kita lalui bahkan sebelum barat bertempur dengan dirinya pada Abad Pertengahan. Masalahnya sebenarnya sama, mencari jalan buntu pada rel kereta yang sedang berjalan. Benar saja kita masih mempertanyakan peran dan posisi kita, kita memang belum selesai membahas masalah ini dan selalu berputar pada masalah ini buktinya? Ya kembali mengangkat tema misi profetik. Beberapa pemikir sudah melalui fase ini, nampaknya kita belum selesai membaca bagaimana Kuntowijoyo bicara soal Strukturalisme Transendental, teorinya banyak bicara persoalan kesadaran dan peran yang harus segara ummat selesaikan. Saya kira ini lebih mutakhir ketimbang para pemikir seperti Murtadha Muthahhari, Ali Syariati dan Asghar Ali. Posisi kenabian dalam konteks islam Indonesia memiliki peran dan posisi yang berbeda yang harus dihadapi dengan peran pada belahan dunia yang lain. Jika kita selesai membaca persoalan ini, kesadaran dan peran memiliki tiga aspek penting. manusia terhadap manusia, manusia terhadap alam, manusia terhadap tuhan dan semestinya ummat paham betul tentang bagaimana islam di Indonesia atau dengan kata lain artinya secara aksiologis, ummat seharusnya dapat menghargai prulaitas dan dinamika, sebab bentukan kesadaran dan keberadaan manusia merupakan bagian dari semesta ini, nah barang kali tema-tema misi profetik seharusnya menjadi tema aksiologis bukan epistemik. Atau jika tetap bersihkukuh mengkaji kembali persoalan epistemik, pada akhirnya kita akan terjebak pada posisi yang harus kita pilih, maka dengan tegas saya katakana bahawa Mazhab adalah agama dalam Islam. Faktanya bicara mengenai historisasi teks alquran yang di derivasikan terhadap ranah aksiologis begitu berbeda dan mengalami jurang yang sangat jauh, perdebatan mengenai Bid’ah masih menjadi persoalan serius yang masih belum selesai dan ini adalah konflik berkepanangan yang terus terjadi, dan akhirnya islam meninggalkan umatnya. Pada fase seletelah jatuhnya daulah islamiyah, islamisasi mengalami masalah serius, belum lagi persoalan historisasi yang buntu dan hilang, ditambah kita dengan susah payah mencoba menafsirkan tuhan dalam kerangka epistem yang realistik, hal ini sangat memakan waktu dan disinilah letak tantangan berislam. Maka jika kita ingin tetap menghargai prulalitas maka posisi kita dangan umat sudah seharusnya lebih besar porsinya, sebab indentitas HMI yang selalu kita klaim prulal akan kehilangan identitasnya, kita seharusnya memantapkan posisi ini, belum lagi bicara persoalan Indonesia dengan bentukan kebudayaannya sendiri, dimana islam dengan segala moralitas doktrinalnya? Saya harus ulangi kita harus memantapkan posisi. Edward said sudah banyak membela dengan karyanya tentang Orientalisme, nampaknya kita setengah hati bicara Oksidentalisme, hassan hanafi hanya mewakili dirinya.

Kita sudah diajarkan bahwa sejarah tak bisa menemukan kayakinan, bahwa kebudayaan tak bisa memberikan kepastian, bahwa pemikiran begitu mengasingkan, bahwa agama tak sanggup memberi makan.

Dimanakah kita akan bertemu? Pada ruang yang tak menentu?

Hujan mengguyuri rumah itu.
Pada kamar yang masih menyala. Ratusan judul buku berjejer dan tumpukan buku berserakan. Seorang pria meraih buku, pada halaman 186 terselip gambar dengan coretan krayon. “aku sedang duduk pada kereta yang terus berjalan, dan aku lupa siapa yang duduk disampingku pada pukul 12.00 tadi”






Written by

Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Purwokerto.

0 komentar:

Plaas 'n opmerking

 

© 2013 HMI (MPO) Cabang Purwokerto. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top