“Real investment; direct investment,
pasar modal, harus lebih diarahkan ke pemain-pemain lokal. Pemain asing
saat ini masih dominan 60-70 persen di saham obligasi kita, jadinya
mereka punya pengaruh besar terhadap ekonomi kita,” ungkap Farouk kepada
hminews, Kamis (29/8/2013).
Menurutnya, akibat pengaruh ekonomi
global, pemain-pemain asing yang sebagian besarnya berasal dari Amerika
Serikat tersebut melarikan uang ke negara mereka dan akibatnya nilai
tukar Rupiah makin merosot.
Kondisi saat ini menurutnya, tidak
seburuk yang terjadi pada tahun 98 yang konglomerasinya begitu parah.
Sekarang usaha kecil mikro lebih baik, meski masih harus terus
ditingkatkan. Farouk setuju dengan langkah yang ditempuh pemerintah
menaikkan BI rate 7 persen seperti sekarang.
Beberapa Kesalahan Pemerintah
Farouk mengungkapkan, inflasi yang
terjadi sekarang ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah beberapa
waktu lalu seperti pencabutan subsidi BBM pada waktu yang tidak tepat;
menjelang bulan puasa, lebaran dan musim masuk sekolah.
“Pencabutan subsidi ikut berkontribusi:
watunya tidak tepat; bulan puasa, lebaran dan masuk sekolah. Sekarang
berdampak inflasi, harga-harga naik Rupiah jadi lemah.”
Seharusnya, saran Farouk, pemerintah
tidak usah terlalu fokus pada pencabutan subsidi, tapi reformasi sektor
Migas, mempermudah investasi, dan pihak-pihak ketiga dalam pembelian
migas harus diinvestigasi karena telah mengakibatkan BBM mahal.
“Jangan main subsidinya, tapi reformasi yang komprehensif,” tegasnya.
Farouk yang semasa kuliah pernah
tergabung sebagai pendiri FKMIJ (Forum Komunikasi Mahasiswa Islam
Jakarta) tersebut menegaskan civil society harus terus dikuatkan karena
hal itu pula yang menguatkan bangsa dan negara sehingga tidak mudah
terkena gonjang-ganjing seperti saat ini. Selain tentu saja penegakan
hukum, reformasi birorasi, akuntabilitas penggunaan pajak dan
pemberantasan korupsi harus berjalan seiring.
Mengenai kemungkinan dampaknya terhadap
situasi politik yang disebutkan bisa berpengaruh terhadap kepemimpinan
Presiden SBY yang diprediksi tidak bakal sampai 2014, Farouk mengatakan
tradisi semacam itu tidak sehat bagi dalam iklim demokrasi. “Sebaiknya
tidak sampai sejauh itu karena bisa menimbulkan instabilitas.”
Di Indonesia, kata dia, sudah harus
berbicara sistem, bukan melulu tentang figur. “Dahulu kita turunkan
Suharto, tapi Suharto jatuh, orang-orang yang menggantikannya itu-itu
juga, sama saja,” ungkapnya.

0 komentar:
Plaas 'n opmerking