Donderdag 19 September 2013

Bahasa “Saru” di Bulan Ramadhan



Syahid Muhammad Muthahhari 
Sekum HMI MPO Cabang Purwokerto


Sebentar lagi ada sebuah bulan yang disucikan, sebab “suci” dibulan ini dimaknai sebagai bulan penyerahan diri total kepada tuhan. Totalitas penyerahan diri ini termanifestasi lewat “puasa”, bukan hanya sekedar menahan makan dan minum, hingga perilakupun ikut “berpuasa”. Artinya di bulan ini ada moralitas yang telah di tentukan, bukan untuk di pertanyakan, bukan untuk kritisi, tapi dijalankan dan dipatuhi atau dengan kata lain ada moralitas ke-tuhanan yang diterapkan pada kesaharian, beserta cara, waktu dan tempatnya, oleh sebab itu tidak mengherankan apabila pada bulan ini produksi kata-kata mutiara dan bahasa islami membumbung tinggi berikut harga dan kemasannya, tidak menghernakan pula jika banyak orang tiba-tiba menjadi “seleberitis”, namun untungnya produksi kata dan seleb ini tidak pernah mencapai inflasi, malah overproduksi sangat dianjurkan, sebab hanya pada bulan ini maksimalnya pasar sesuai dengan maksimalnya pahala, overproduksi sesuai dengan over pahala, jadi tidak akan masalah, malahan ini yang ditunggu-tunggu untuk para pengejar syurga.

Jalan Buntu



Syahid M Muthahhari
Sekum HMI MPO Cabang Purwokerto


Ketika hendak menoreh kata dalam tulisan ini, rasanya pikiran begitu terepresi. Sebuah kegiatan yang dirangkum dalam kerangka ideologis selalu enggan memberikan ruang pada dialektika yang lebih terbuka. Syarat dan ketentuan dimaknai sebagai kewajiban dan penyelenggara adalah otoritas penentu. Ingatan tentang cita-cita pada akhirnya membentuk kesadaran bahwa agama menjadi naungan dan tumpuan, kemudian melahirkan kepatuhan. Apa yang hendak dibicarakan bukan hanya persoalan perkaderan, namun mitos yang terus menerus tersusun rapi lewat selubung-selubung ideologis yang terlembagakan. Kategorisasi objektif dan subjektif tak bisa di klaim secara positivistik sebab keduanya merupakan dimensi kesadaran yang membentuk pola pikiran dan tindakan. Buktinya saja tulisan ini bukan dalam konotasi melawan namun mencoba mempertanyakan kembali, agar setidak-tidaknya ruang dikhotomis tidak terjadi, agar kontempalsi individual bisa dimengerti sebagai penemuan baru yang segar, sebab lagi-lagi ideologi rentan kodifikasi dan mistifikasi, begitupula halnya islam dalam rentang sejarah yang panjang, cita-cita ideologis selalu terjebak pada konflik tak berkesudahan dan stigma. Dalam aras aktualisasi, kita terebak dalam kontektualisasi buta, lagi-lagi historisasi selalu menemui kebuntuan dan patahan dalam realitas yang absurd. Dan kita terus mengulang mitos ini. Lalu akankah kita bertahan pada ideologi ini?

Disisi lain sejarah menjadi bentuk kajian serius untuk memecah kebuntuan ini. Sejarah dianggap dapat mengembalikan ingatan pada asal mula terjadinya semesta mengembalikan mitos pada fakta, mengembalika cita-cita pada hakikat, mengambalikan manusia pada fitrah?. Namun sejarah selalu malu-malu menjukan siapa dirinya, hingga kemaluan ditempatkan diatas kepalanya, identitasnya selalu tersembunyi bahkan persembunyiannya rasa-rasanya tak mungkin ditemui. Kebenaran yang disampaikan sejarah bisa seperti seorang propagandis, tegas dan politis, namun sejarah juga bisa ungkapkan dengan kontempalif dan romantis. Ia bisa sampaikan kebenaran dan kebohongan pada ruang waktu yang berbeda bahkan sama sekaligus. Artefak-artefak sejarah dimaknai sebagai peninggalan sejarah, bentukan masa lalu dan romantisme yang menghakimi bahwa masa lalu adalah tradisional dan kini adalah modern? Sejarah memenggal kepalanya sendiri, sejarah tak bisa menjadi pembanaran atas kebuntuan ini. Lagi-lagi pengetahuan sejarah masih perspektivis dan sangat individual, Marx hanya bicara ekonomi. Sejarah hanya menyisakan artefak mayat-mayat berserakan di pinggir jalan.

Dilain pihak, skeptipisme dijawab melalui kebudayaan, masih dalam kerangka sejarah, bahwa penemuan orisinil manusia terbentuk melalui kebudayaan yang menghasilkan stuktur sosial, ekonomi dan politik para pemikir post bermunculan dan humanisme diaganungkan kembali, Lacan hingga Zizek bicara persolan ini. Kesadaran di klaim terbentuk dari hal ini, namun masih perlu dipertanyakan kembali, sebab manusia tidak beralan sendiri bahkan, sekalipun Barthes bicara mitos ia akhirnya mengkritik dirinya sendiri. Para pemikir post ini lebih parah, kebuntuan diawab dengan skeptipisme berlebihan dan pada akhirnya kebenaran tak sempat di temukan dalam kekosongan keyakinan. Atau ditempatkan pada dua pilihan menjadi positivistik-subjektif atau individualistik. Para pemikir post saya kira hanya menyisakan menara yang makin tinggi. Dan perdebatan antara kesadaran tak lain hanya terjebak pada empirisme yang selalu terulang. Entah kapitalisme atau komunisme tak bisa melepaskan dari sturktur ekonomi. Sekalipun banyak pemikir post, pendekatan ekonomi politik masih jadi tumpuan, kalau sekalipun melakukan lompatan pemikiran hanya khotbah jum’at semata. Kapitalisme memang menang, dengan berlebihan Francis Fukuyama berorasi dalam bukunya “the end history on the last man” namun proses ini masih belum selesai selagi penguasa modal semakin sedikit dikuasai orang dan kala itu revolusi terjadi, hanya peralihan kuasa lewat mekanisme yang berbeda namun sebetulnya sama saja.

Marxisme hanya menyisakan: ternak sapi
Kapitalisme hanya menyisakan: sapi perah.

Akankah kita percaya atau merenungi ungkapan Emha bahwa “konflik adalah keniscayaan, agar alam tetap menjadi alam, agar manusia tetap menjadi manusia. Dialektiktika abadi”

Dalam kancah pemikiran islam, peran dan posisi manusia selalu dipertanyakan, islam mengklaim manusia sebagai khalifah, sebuah ungkapan yang penuh optimistik dan kepercayaan berlebihan terhadap diri sendiri. peran ini dimaknai begitu bernilai, hingga syurga sebagai kepercayaan mistik dijadikan sebagai akhir tujuan penciptaan dan kembalinya manusia pada tuhan adalah sejatinya kemanusiaan. Konsekunesi logis dari hal ini karap kali menjadikan manusia sangat antroposentris, apa yang dialami para pemikir dibelahan bumi barat nampaknya terjadi juga di timur, perbedaaannya hanya pada tujuan yang empirik dan yang mistik. Alienasi manusia dengan realitas objektifnya kian terpisah, kita bisa saksikan konflik sektarian yang belum selesai hingga kini dan keterbelakangan dalam peradaban islam, kejayaan yang pernah dimiliki hancur karena perdebatan sektarian mengenai persoalan mazhab.

Doktrin manusia sebagai khalifah tidak lain memproduksi banyaknya manusia-manusia ortodoks dan pemarah, seolah tuhan berada di balik nya yang siap menebaskan pisau di kepala setiap manusia yang berbeda. Padahal kritik yang dilancarkan para pemikir islam begiru gencar dengan klaim-klaim ateisme. Islam sedang menghadapi masalah serius berupa masalah ekonomi-politik yang rill dan moralitas, sebab faktanya kesejahteraan nampaknya belum lahir dibelahan bumi Islam disisi lain kita masih sibuk dengan pekerjaan rumah, ya bicara soal moral! Kita akhrinya begitu tertinggal jauh dan fase perdebatan pemikiran dan konflik berdarah sudah kita lalui bahkan sebelum barat bertempur dengan dirinya pada Abad Pertengahan. Masalahnya sebenarnya sama, mencari jalan buntu pada rel kereta yang sedang berjalan. Benar saja kita masih mempertanyakan peran dan posisi kita, kita memang belum selesai membahas masalah ini dan selalu berputar pada masalah ini buktinya? Ya kembali mengangkat tema misi profetik. Beberapa pemikir sudah melalui fase ini, nampaknya kita belum selesai membaca bagaimana Kuntowijoyo bicara soal Strukturalisme Transendental, teorinya banyak bicara persoalan kesadaran dan peran yang harus segara ummat selesaikan. Saya kira ini lebih mutakhir ketimbang para pemikir seperti Murtadha Muthahhari, Ali Syariati dan Asghar Ali. Posisi kenabian dalam konteks islam Indonesia memiliki peran dan posisi yang berbeda yang harus dihadapi dengan peran pada belahan dunia yang lain. Jika kita selesai membaca persoalan ini, kesadaran dan peran memiliki tiga aspek penting. manusia terhadap manusia, manusia terhadap alam, manusia terhadap tuhan dan semestinya ummat paham betul tentang bagaimana islam di Indonesia atau dengan kata lain artinya secara aksiologis, ummat seharusnya dapat menghargai prulaitas dan dinamika, sebab bentukan kesadaran dan keberadaan manusia merupakan bagian dari semesta ini, nah barang kali tema-tema misi profetik seharusnya menjadi tema aksiologis bukan epistemik. Atau jika tetap bersihkukuh mengkaji kembali persoalan epistemik, pada akhirnya kita akan terjebak pada posisi yang harus kita pilih, maka dengan tegas saya katakana bahawa Mazhab adalah agama dalam Islam. Faktanya bicara mengenai historisasi teks alquran yang di derivasikan terhadap ranah aksiologis begitu berbeda dan mengalami jurang yang sangat jauh, perdebatan mengenai Bid’ah masih menjadi persoalan serius yang masih belum selesai dan ini adalah konflik berkepanangan yang terus terjadi, dan akhirnya islam meninggalkan umatnya. Pada fase seletelah jatuhnya daulah islamiyah, islamisasi mengalami masalah serius, belum lagi persoalan historisasi yang buntu dan hilang, ditambah kita dengan susah payah mencoba menafsirkan tuhan dalam kerangka epistem yang realistik, hal ini sangat memakan waktu dan disinilah letak tantangan berislam. Maka jika kita ingin tetap menghargai prulalitas maka posisi kita dangan umat sudah seharusnya lebih besar porsinya, sebab indentitas HMI yang selalu kita klaim prulal akan kehilangan identitasnya, kita seharusnya memantapkan posisi ini, belum lagi bicara persoalan Indonesia dengan bentukan kebudayaannya sendiri, dimana islam dengan segala moralitas doktrinalnya? Saya harus ulangi kita harus memantapkan posisi. Edward said sudah banyak membela dengan karyanya tentang Orientalisme, nampaknya kita setengah hati bicara Oksidentalisme, hassan hanafi hanya mewakili dirinya.

Kita sudah diajarkan bahwa sejarah tak bisa menemukan kayakinan, bahwa kebudayaan tak bisa memberikan kepastian, bahwa pemikiran begitu mengasingkan, bahwa agama tak sanggup memberi makan.

Dimanakah kita akan bertemu? Pada ruang yang tak menentu?

Hujan mengguyuri rumah itu.
Pada kamar yang masih menyala. Ratusan judul buku berjejer dan tumpukan buku berserakan. Seorang pria meraih buku, pada halaman 186 terselip gambar dengan coretan krayon. “aku sedang duduk pada kereta yang terus berjalan, dan aku lupa siapa yang duduk disampingku pada pukul 12.00 tadi”






SUNYI


oleh 
Syahid M Muthahhari
(Sekum HMI MPO Purwokerto)

Pada ruang dan ranah yang sedang kita hadapi, pada realitas yang nampak mewujud dalam kehidupan sehari-hari, pada cita-cita yang kita tempuh dan perjuangkan, pada idealita yang kita harapkan dapat membumi, pada lampu padam yang selalu kita inginkan menyala, pada impian yang tersusun rapi, selalu kita temui sunyi.

World Muslimah, strategi kapitalisme manipulasi Syariah




Oleh : Syahrul Efendi D
(Mantan Ketua Umum PB HMI MPO)

Satu watak kapitalisme ialah tidak pernah berhenti, dan selalu menemukan cara untuk mengakali, memanipulasi, dan mengeksploitasi publik demi pertumbuhan kapital. Dan itulah yang mereka lakukan kepada publik Muslim dewasa ini. Publik Muslim dengan tololnya menerima begitu saja kriteria-kriteria syariah versi kapitalisme.

Saterdag 07 September 2013

"GREEN BLACK FEST"



Merupakan event independent non-profit yang diorgansir oleh kader-kader HMI-MPO Cabang Purworkerto yang terhimpun dari berbagai fakultas dan jurusan di Universitas yang berada di Purwokerto. Kegiatan ini diselenggrakan sebagai platform bagi HMI-MPO Cabang Purwokerto sebagai ruang edukasi kepada mahasiswa dan tempat berbagi kepada masyarakat. Dalam penyelenggarannya kegiatan ini sangat memberikan ruang kepada individu, komunitas dan gerakan mahasiswa lainya untuk memamerkan karya, kegiatan memberikan edukasi berupa diskusi dan saling bahu membahu memetakan masalah dan bergerak bersama dalam ranah yang lebih kongkret dalam mengatualkan kepedulian dan keresahan. Agar ruang edukatif dan kepedulian semakin terbuka lebar, sehingga tidak ada alasan untuk tinggal diam dan berdiri di ujung menara sambil berteriak kebenaran. Disinilah ruang yang pernuh warna dan tempat bertukarnya pikiran serta tempat mengulurkan tangan. 
22-28 September 2013
JL. Kampus, Pendopo Kelurahan Grendeng
Kecamatan Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas

Lomba Fotografi “Aku dan Buku”
Kegiatan ini diadakan sebagai upaya merekatkan mahasiswa dengan buku, sebab untuk mengenal lebih dekat eksistensi manusia dan posisinya dimasyarakat maka buku adalah jembatan. Sebab tanpa pengetahuan eksistensi hanyalah ruang kosong tanpa makna dan tanpa gerak dan upaya.

Syarat, Ketentuan, Taktik dan Hadiah
1.       Kumpulkan Fotomu, apapun ukurannya dalam bentuk softfile ke email dan twitter kami di @hmi_purwokerto dan hmimpocabangpurwokerto@gmail.com (boleh juga ukuran foto KTP) dan hardfile ke sekertariat HMI-MPO Cabang Purwokerto di Jln. Kenanga Gg. Kaka Tua No. 141 Rt. 02 Rw. 02 Kelurahan Grendeng.
2.      Sertakan Nama_NIM_Jurusan_Fakultas_Angkatan dan No. Tlpn yang masih aktif.
3.       Pengumpulan foto dari tanggal 8-19 September 2013
4.      Kamera yang digunakan tanpa ketentuan artinya bebas
5.      Selanjutnya apapun gayamu, apapun ekspresimu, seperti apapun bentuk bukumu, terserah!, agar kawan-kawan bisa berkreasi lebih GILA!
6.      Setelah tanggal 19, maka Fotomu akan dipilih secara langsung, bebas dan adil pada acara Green Black Fest selama seminggu 22-28 September 2013, soalnya foto kawan-kawan kami pamerkan di acara Green Black Fest.
7.       Maka kami mau menyarankan agar partisipator sebaiknya membuat tim sukses pemilihan foto, agar fotomu mendapatkan suara terbanyak dan menjadi pemenang.
8.      Mekanisme pemilihan dengan cara datang ke acara Green Black Fest di Grendeng, mengisi daftar hadir dan mengambil form pemilihan foto lalu diserahkan ke kotak pemilihan. (pemilih yang sudah memilih tidak dapat memilih kembali)
9.      Kalau masih bingung hubungi saja Syahid M Muthahhari (087719600114)
10.   Pemenang akan mendapatkan hadiah menarik berupa Buku dan Amplop uang jajan dan hanya ada pemenang pertama.
11.   Tidak ada biaya pendaftaran dan maksimal kirimkan 3 foto saja.
12.   Ikuti semua langkah-langkahnya Insya Allah, menang.
13.   Alhamdulillah, Terima kasih.



Nonton Bareng dan Diskusi “Refleski 15 Tahun Reformasi”
Pembicara       : CLC (community lover cinema) Purbalingga
Tempat              : Kelurahan Grendeng
Waktu                 : Senin, 23 September 2013
Pukul                   : 19.30 – Selesai 



Bazzar Buku

                                                                           
Tempat              : Kelurahan Grendeng
Waktu                 : Minggu,  22-28 September 2013    
Buka dari jam 09.00 sampai 23.00
  


Stand Bingkai Cerita HMI-MPO Cabang Purwokerto
Dalam Stand ini terdapat berbagai foto-foto sejarah HMI dari zaman Ke zaman, mengingat berdirinya HMI-MPO di Purwokerto sudah sejak tahun 1963,  dalam beberapa priode kepengurusan, rekaman sejarah tercatat dengan jelas. Selain itu di stand ini pula terdapat buku-buku HMI-MPO dan Zine yang bisa dinikmati dan dipesan. Di stand ini persitipan dapat bertanya sharing dan berbagi cerita tentang HMI-MPO.

Tempat              : Kelurahan Grendeng 


Diskusi “HMI dan Gerakan Mahasiswa”

Pembicara       :
Syahid M Muthahhari  (Sekum HMI-MPO)
Idrus Chaelani                    (Ketun HMI-MPO)
Ahmad Taqiyudin           (Ketua Anarkisme Purwokerto)   
                               
Tempat              : Kelurahan Grendeng

Waktu                 : Selasa, 24 September 2013

Pukul                   : 09.00 -  12.00
 

Pengobatan Gratis kerjasama dengan Majelis Fatimatul Zahra

Tempat              : MAFAZA
Waktu                 : Rabu, 25 September 2013
Pukul                   : 09.00 – 15.00

Diskusi  “Membangun Intelektual Muda”
Pembicara       :
Prof. Totok Agung (Ketua LPPM)
Shinta Adjahrie (Anggota KPC)
Tempat              : Pendopo Kelurahan Grendeng
Waktu                 : Kamis, 26 September 2013
Pukul                   : 09.30 – 12.00
 
Malam Guyub kerjasama dengan KOSAKATA

Rangkaian Acara :
Accoustic
Pembacaan Puisi
Pementasan Teater
Pengumuman Pemenang
Guyub bersama
Tempat              : Pendopo Kelurahan Grendeng
Waktu                 : Sabtu, 28 September 2013
Pukul                   : 19.30- selesai 

Opini

More on this category »

Ekopol

More on this category »

 

© 2013 HMI (MPO) Cabang Purwokerto. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top