Syahid
M Muthahhari
Sekum HMI MPO Cabang Purwokerto
Ketika hendak menoreh kata dalam tulisan
ini, rasanya pikiran begitu terepresi. Sebuah kegiatan yang dirangkum dalam
kerangka ideologis selalu enggan memberikan ruang pada dialektika yang lebih
terbuka. Syarat dan ketentuan dimaknai sebagai kewajiban dan penyelenggara
adalah otoritas penentu. Ingatan tentang cita-cita pada akhirnya membentuk
kesadaran bahwa agama menjadi naungan dan tumpuan, kemudian melahirkan
kepatuhan. Apa yang hendak dibicarakan bukan hanya persoalan perkaderan, namun
mitos yang terus menerus tersusun rapi lewat selubung-selubung ideologis yang
terlembagakan. Kategorisasi objektif dan subjektif tak bisa di klaim secara
positivistik sebab keduanya merupakan dimensi kesadaran yang membentuk pola pikiran
dan tindakan. Buktinya saja tulisan ini bukan dalam konotasi melawan namun
mencoba mempertanyakan kembali, agar setidak-tidaknya ruang dikhotomis tidak
terjadi, agar kontempalsi individual bisa dimengerti sebagai penemuan baru yang
segar, sebab lagi-lagi ideologi rentan kodifikasi dan mistifikasi, begitupula
halnya islam dalam rentang sejarah yang panjang, cita-cita ideologis selalu
terjebak pada konflik tak berkesudahan dan stigma. Dalam aras aktualisasi, kita
terebak dalam kontektualisasi buta, lagi-lagi historisasi selalu menemui
kebuntuan dan patahan dalam realitas yang absurd. Dan kita terus mengulang
mitos ini. Lalu akankah kita bertahan pada ideologi ini?
Disisi lain sejarah menjadi bentuk kajian
serius untuk memecah kebuntuan ini. Sejarah dianggap dapat mengembalikan
ingatan pada asal mula terjadinya semesta mengembalikan mitos pada fakta,
mengembalika cita-cita pada hakikat, mengambalikan manusia pada fitrah?. Namun
sejarah selalu malu-malu menjukan siapa dirinya, hingga kemaluan ditempatkan
diatas kepalanya, identitasnya selalu tersembunyi bahkan persembunyiannya rasa-rasanya
tak mungkin ditemui. Kebenaran yang disampaikan sejarah bisa seperti seorang
propagandis, tegas dan politis, namun sejarah juga bisa ungkapkan dengan
kontempalif dan romantis. Ia bisa sampaikan kebenaran dan kebohongan pada ruang
waktu yang berbeda bahkan sama sekaligus. Artefak-artefak sejarah dimaknai
sebagai peninggalan sejarah, bentukan masa lalu dan romantisme yang menghakimi
bahwa masa lalu adalah tradisional dan kini adalah modern? Sejarah memenggal
kepalanya sendiri, sejarah tak bisa menjadi pembanaran atas kebuntuan ini.
Lagi-lagi pengetahuan sejarah masih perspektivis dan sangat individual, Marx
hanya bicara ekonomi. Sejarah hanya menyisakan artefak mayat-mayat berserakan
di pinggir jalan.
Dilain pihak, skeptipisme dijawab melalui
kebudayaan, masih dalam kerangka sejarah, bahwa penemuan orisinil manusia
terbentuk melalui kebudayaan yang menghasilkan stuktur sosial, ekonomi dan
politik para pemikir post bermunculan dan humanisme diaganungkan kembali, Lacan
hingga Zizek bicara persolan ini. Kesadaran di klaim terbentuk dari hal ini,
namun masih perlu dipertanyakan kembali, sebab manusia tidak beralan sendiri bahkan, sekalipun Barthes bicara
mitos ia akhirnya mengkritik dirinya sendiri. Para pemikir post ini lebih parah, kebuntuan
diawab dengan skeptipisme berlebihan dan pada akhirnya kebenaran tak sempat di
temukan dalam kekosongan keyakinan. Atau ditempatkan pada dua pilihan menjadi
positivistik-subjektif atau individualistik. Para pemikir post saya kira hanya menyisakan
menara yang makin tinggi. Dan perdebatan antara kesadaran tak lain hanya
terjebak pada empirisme yang selalu terulang. Entah kapitalisme atau komunisme
tak bisa melepaskan dari sturktur ekonomi. Sekalipun banyak pemikir post,
pendekatan ekonomi politik masih jadi tumpuan, kalau sekalipun melakukan
lompatan pemikiran hanya khotbah jum’at semata. Kapitalisme memang menang,
dengan berlebihan Francis Fukuyama berorasi dalam bukunya “the end history on the last man” namun proses ini masih belum
selesai selagi penguasa modal semakin sedikit dikuasai orang dan kala itu
revolusi terjadi, hanya peralihan kuasa lewat mekanisme yang berbeda namun
sebetulnya sama saja.
Marxisme hanya menyisakan: ternak sapi
Kapitalisme hanya menyisakan: sapi perah.
Akankah kita percaya atau merenungi ungkapan
Emha bahwa “konflik adalah keniscayaan,
agar alam tetap menjadi alam, agar manusia tetap menjadi manusia. Dialektiktika
abadi”
Dalam kancah pemikiran islam, peran dan
posisi manusia selalu dipertanyakan, islam mengklaim manusia sebagai khalifah,
sebuah ungkapan yang penuh optimistik dan kepercayaan berlebihan terhadap diri
sendiri. peran ini dimaknai begitu bernilai, hingga syurga sebagai kepercayaan mistik
dijadikan sebagai akhir tujuan penciptaan dan kembalinya manusia pada tuhan adalah
sejatinya kemanusiaan. Konsekunesi logis dari hal ini karap kali menjadikan
manusia sangat antroposentris, apa yang dialami para pemikir dibelahan bumi
barat nampaknya terjadi juga di timur, perbedaaannya hanya pada tujuan yang
empirik dan yang mistik. Alienasi manusia dengan realitas objektifnya kian
terpisah, kita bisa saksikan konflik sektarian yang belum selesai hingga kini
dan keterbelakangan dalam peradaban islam, kejayaan yang pernah dimiliki hancur
karena perdebatan sektarian mengenai persoalan mazhab.
Doktrin manusia sebagai khalifah tidak lain
memproduksi banyaknya manusia-manusia ortodoks dan pemarah, seolah tuhan berada
di balik nya yang siap menebaskan pisau di kepala setiap manusia yang berbeda. Padahal
kritik yang dilancarkan para pemikir islam begiru gencar dengan klaim-klaim
ateisme. Islam sedang menghadapi masalah serius berupa masalah ekonomi-politik
yang rill dan moralitas, sebab faktanya kesejahteraan nampaknya belum lahir
dibelahan bumi Islam disisi lain kita masih sibuk dengan pekerjaan rumah, ya
bicara soal moral! Kita akhrinya begitu tertinggal jauh dan fase perdebatan
pemikiran dan konflik berdarah sudah kita lalui bahkan sebelum barat bertempur
dengan dirinya pada Abad Pertengahan. Masalahnya sebenarnya sama, mencari jalan
buntu pada rel kereta yang sedang berjalan. Benar saja kita masih
mempertanyakan peran dan posisi kita, kita memang belum selesai membahas
masalah ini dan selalu berputar pada masalah ini buktinya? Ya kembali
mengangkat tema misi profetik. Beberapa pemikir sudah melalui fase ini,
nampaknya kita belum selesai membaca bagaimana Kuntowijoyo bicara soal Strukturalisme Transendental, teorinya
banyak bicara persoalan kesadaran dan peran yang harus segara ummat selesaikan.
Saya kira ini lebih mutakhir ketimbang para pemikir seperti Murtadha
Muthahhari, Ali Syariati dan Asghar Ali. Posisi kenabian dalam konteks islam Indonesia memiliki peran dan posisi yang berbeda yang
harus dihadapi dengan peran pada belahan dunia yang lain. Jika kita selesai
membaca persoalan ini, kesadaran dan peran memiliki tiga aspek penting. manusia
terhadap manusia, manusia terhadap alam, manusia terhadap tuhan dan semestinya
ummat paham betul tentang bagaimana islam di Indonesia atau dengan kata lain
artinya secara aksiologis, ummat seharusnya dapat menghargai prulaitas dan
dinamika, sebab bentukan kesadaran dan keberadaan manusia merupakan bagian dari
semesta ini, nah barang kali tema-tema misi profetik seharusnya menjadi tema
aksiologis bukan epistemik. Atau jika tetap bersihkukuh mengkaji kembali
persoalan epistemik, pada akhirnya kita akan terjebak pada posisi yang harus
kita pilih, maka dengan tegas saya katakana bahawa Mazhab adalah agama dalam Islam.
Faktanya bicara mengenai historisasi teks alquran yang di derivasikan terhadap
ranah aksiologis begitu berbeda dan mengalami jurang yang sangat jauh,
perdebatan mengenai Bid’ah masih menjadi persoalan serius yang masih belum
selesai dan ini adalah konflik berkepanangan yang terus terjadi, dan akhirnya
islam meninggalkan umatnya. Pada fase seletelah jatuhnya daulah islamiyah,
islamisasi mengalami masalah serius, belum lagi persoalan historisasi yang
buntu dan hilang, ditambah kita dengan susah payah mencoba menafsirkan tuhan
dalam kerangka epistem yang realistik, hal ini sangat memakan waktu dan
disinilah letak tantangan berislam. Maka jika kita ingin tetap menghargai
prulalitas maka posisi kita dangan umat sudah seharusnya lebih besar porsinya,
sebab indentitas HMI yang selalu kita klaim prulal akan kehilangan
identitasnya, kita seharusnya memantapkan posisi ini, belum lagi bicara
persoalan Indonesia dengan bentukan kebudayaannya sendiri,
dimana islam dengan segala moralitas doktrinalnya? Saya harus ulangi kita harus
memantapkan posisi. Edward said sudah banyak membela dengan karyanya tentang
Orientalisme, nampaknya kita setengah hati bicara Oksidentalisme, hassan hanafi
hanya mewakili dirinya.
Kita sudah diajarkan bahwa sejarah tak bisa
menemukan kayakinan, bahwa kebudayaan tak bisa memberikan kepastian, bahwa
pemikiran begitu mengasingkan, bahwa agama tak sanggup memberi makan.
Dimanakah kita akan bertemu? Pada ruang yang
tak menentu?
Hujan
mengguyuri rumah itu.
Pada
kamar yang masih menyala. Ratusan judul buku berjejer dan tumpukan buku
berserakan. Seorang pria meraih buku, pada halaman 186 terselip gambar dengan
coretan krayon. “aku sedang duduk pada kereta yang terus berjalan, dan aku lupa
siapa yang duduk disampingku pada pukul 12.00 tadi”